Lelaki bertubuh tinggi itu berjalan dalam
diam. Mata biru-kelabunya menyapu seluruh bagian jalanan. Seberkas kecemasan
bercampur ketegangan terlihat dari sudut matanya. Tak dapat dipungkiri, ia
sedang waspada. Jalanan itu penuh orang, khas jalanan Tokyo yang penduduknya
rata-rata lebih memilih berjalan kaki daripada harus mengotori udara dengan
asap kendaraan. Lelaki itu berhenti didepan suatu mesin minuman dan memasukkan
sebuah logam, mengambil minumannya dan melanjutkan langkahnya menuju suatu gang
gelap kecil yang agak tersembunyi dari keramaian. Ia menyelinap dengan sempurna
kedalam gang itu, tetap melangkah dengan tenang, walau tetap terlihat bahwa ia
tegang. Tak dapat dipungkiri, apalagi disangkal.
Gang itu berkelok, entah dimana ujungnya. Tak
ada yang tau. Bagaikan labirin, gang itu bisa menyesatkan siapapun yang masuk
kedalamnya. Tetapi tidak dengan lelaki ini. Temannya lah yang menciptakan gang
rumit tersebut, dengan satu tujuan “KEAMANAN”.
Satu tegukan soda, ia masih berjalan tenang.
Berbelok belok ke kiri ke kanan tanpa keraguan setitik pun. Tegukan soda yang
terakhir, ia sampai ke sebuah pintu kayu bertuliskan “DILARANG MASUK”. Ia
membuka gagang pintu itu dan menghilang dibaliknya. Ia memasuki sebuah lorong
remang didalam bangunan dimana pintu tadi menempel. Lorong tersebut hanya
dilampui dengan beberapa bola lampu temaram yang hampir redup. Ujung lorong itu
berbelok ke kanan dan disana ada sebuah ruangan yang juga tak kalah remang dari
lorong itu sendiri.
“Anata wa watashi nashi de giron o kaishi?
Hijō ni ōheina.”
(kalian mulai tanpa aku? Sombong sekali.)
Lelaki itu angkat bicara setelah melihat
situasi didalam ruangan itu.
3 lelaki lain sedang duduk di kursinya
masing-masing. Sementara ditengah tengah, disebuah kursi besar yang terlihat paling
mewah daripada kursi yang lain, duduklah seorang lagi lelaki lain, matanya
setajam bilah pedang assasin. Kedua matanya memiliki warna yang berbeda. Yang
satu berwarna hijau kilat, sementara yang lain berwarna merah darah. Sisa
wajahnya ditutup dengan sebuah masker hitam bercorak ular tembaga berkepala dua
yang di masing-masing kepala ular tersebut ada mahkota duri yang mengilap dan
tajam diletakkan. Lelaki itu mengenakan jaket kulit hitam, melapisi sebuah kaos
hitam bercorak putih didalamnya.
“Mōshiwakearimasenga, anata no sonzai wa
yūyōde wa arimasen.”
(maaf, tapi kehadiranmu itu tidaklah berguna.)
Seorang lelaki lain menyahut. Ia berambut
coklat dengan potongan half-shaved. Ia duduk berjongkok dikursinya sembari
mengendus suatu serbuk putih yang terbungkus kertas ditangannya. Shabu-shabu.
“kusso”
(bajingan)
Balas lelaki tadi dengan nada dingin namun
tenang. Ia melirik tajam ke arah lelaki berambut coklat tadi.
“nante ne.”
(hanya bercanda)
Jawab lelaki berambut coklat itu santai
sembari menghirup shabu-shabunya penuh nikmat.
“Sō, Ji-san, naze anata wa okurete iru?”
(jadi, mengapa kau terlambat?)
Tanya seorang lelaki lain yang sedang sibuk
menatap gelas berisi wine ditangannya. Ia memiliki mata kecil yang tajam dan
membunuh.
“berhentilah menggunakan bahasa yang tidak ku
pahami.” Celetuk seseorang yang kini sedang berjongkok diatas meja dan
memainkan ujung rambutnya dengan santai. Tatapannya lurus menatap tembok
didepannya.
“aku terhambat sesuatu” lelaki bernama Jisan
(Ji-san) tadi menjawab.
“nani koto?”
(apa itu?)
Tanya lelaki berambut coklat. Namanya adalah
Aiden.
“keisatsu.”
(polisi)
Jawab Jisan singkat sembil menghempaskan
tubuhnya di kursi.
Jawaban singkat Jisan mendapat tatapan
mengerikan dari lelaki bermasker.
“mereka mengejarku. Untungnya aku sempat
melarikan diri. Jika itu Aiden, mungkin ia sudah mendekam di penjara saat ini.
Dia kan bodoh” cibir Jisan santai.
“chikishou!!!!!!!!”
(bangsat!)
Sembur Aiden sembari menghentakkan telapak
tangannya kemeja.
“nan dayo?”
(apa kau?)
Balas Jisan malas.
“baka yarou!”
(dasar bodoh!)
Kesal Aiden. Wajahnya memerah.
“naru hodo”
(begitu rupanya...)
Lelaki bermasker akhirnya angkat bicara. Ia
melepas maskernya dan kini terlihat jelaslah wajahnya. Seluruh anggota lain di ruangan
itu melirik segan ke arahnya.
“dia benar-benar menantangku.” Seulas senyum
tipis menghiasi wajahnya. Tidak, kurasa itu bukan senyuman. Itu lebih seperti
seringaian. “kalau begitu, mari bermain.” Tambahnya.
“apa rencanamu kali ini, Sehun?” tanya lelaki
yang berjongkok diatas meja.
Seringai tipis itu masih terpasang sempurna
“siapkan tiket menuju Amerika. Kita akan meneror rapat PBB minggu depan”
“he?..... Masaka.... sehun? Apa kau serius?”
Jisan terbangun dan memasang wajah tak
setuju.
“apa kau menolak perintah Raja?” selidik
Sehun kearahnya. Kedua mata itu membuat Jisan tunduk.
“Wakatta”
(mengerti.)
Ucap Jisan singkat.
“kau itu pengecut. Itu sebabnya kau tidak
bisa melampauiku. Tetaplah menjadi pengecut dan pada akhirnya kau hanya akan menjadi
sampah busuk yang tidak berguna” ucap Sehun dingin.
------------------------------------------00----------------------------------00----------------------------------------------------
“hey, apa kau tidak tidur?” tanya seseorang
pada seseorang didepannya yang sibuk berpikir.
“tidak sebelum aku menemukan cara untuk
menangkap anak-anak nakal ini” sahut orang itu.
Kring... dering telfon memenuhi ruangan itu.
“kepolisian Tokyo disini. Apa? Dirampok?
Baiklah. Kami akan sampai di lokasi kejadian 15 menit dari sekarang.”
Telfon ditutup.
“dimana?”
“di sekitar tokyo dome”
Kedua orang itu bergegas mengambil jaket
masing-masing. Tak lama berselang, pintu tertutup kencang dan mobil dinyalakan.
Sedetik berlalu, mobil tersebut sudah melaju kencang.
Suasana ramai meliputi kawasan sekitar Tokyo
dome. Dua orang turun dari sebuah mobil dan langsung menghampiri lokasi
kejadian. Kejadian perampokan sebuah bank ternama baru saja terjadi.
“Baekhyun! Chanyeol” panggil seseorang dengan
suara berat. Yang dipanggil segera menghampiri sosok bertubuh tambun tersebut.
“ah, pak kepala. Mengapa anda sibuk-sibuk
datang ke TKP? Serahkan saja pada kami” Baekhyun memberi hormat seraya berkata
dengan sopan.
“aku berharap bisa melihat sendiri pelaku
itu. Tidak lain dan tidak bukan, mereka adalah Grim Reaper Gang” geram pria
baruh baya itu.
“kalian masuklah kesana. Kudengar mereka
berhasil mengambil sekilas foto salah satu dari geng itu” perintah sang kepala.
Baekhyun dan Chanyeol pun memberi hormat
seraya bergegas memasuki bank.
“kusso. Keparat! Lihat saja jika kutemukan.
Akan kutelan hidup-hidup!” geram Chanyeol.
“urusai! Jaga bicaramu. Banyak saksi
masyarakat disini” tegur Baekhyun.
“tch... benar-benar membuat emosi. Geng
jalanan tak bermutu” maki Chanyeol.
Tak lama berselang, mereka memasuki ruangan
bank. Line police terpampang dimana-mana.
“Baekhyun, untunglah kau datang. Ini foto
yang sempat kami ambil.” Salah seorang polisi menyerahkan sebuah foto pada
Baekhyun.
“half-shaved, huh? Coklat... benar-benar
kekanakan. Sayang sekali memakai masker” bisiknya.
“dan ia meninggalkan ini lalu pergi dalam
sekejap mata.” Polisi tadi menyerahkan secarik kertas.
Baekhyun membacanya dengan teliti.
-hebat sekali, polisi. Kalian berhasil
mengetahui tentang kami. Kalian terus mengikuti kami selama setahun ini. Apakah
kalian tidak ada hiburan? Kami akan memberikan kalian hiburan. Mari
bermain-main dengan menyelesaikan kode dibawah ini terlebih dahulu
B-1D. 22
Itu adalah tujuan pengacauan kami minggu
depan. Jangan sampai terlambat, atau hiburan tidak akan bisa kalian dapatkan.
Salam, SEJAV!-
Chanyeol menarik kertas itu dan membacanya.
“anak-anak keparat.” Geramnya.
Baekhyun mengambil kursi dan berjongkok
diatasnya seraya memainkan rambutnya dan menghadap tembok didepannya.
2 days later......
Lelaki itu berjongkok diatas meja dan
memainkan rambutnya. Ia memainkan permen karet yang bertengger seperti balon di
mulutnya. Pandangannya fokus ke televisi didepannya. Tampak seseorang yang
mirip seperti dirinya sedang berbicara dalam sebuah konferensi pers.
“kami telah memecahkan kode dari sebuah geng
remaja bernama Grim Reaper yang dua hari lalu membobol bank Teiko di kawasan
Tokyo Dome” jelas orang didalam televisi tersebut
“orang itu... aku tidak pernah melihatnya
sebelumnya” Jisan angkat bicara sembari meminum soda.
“akupun baru sekali melihatnya. Baru kali
ini. Yang sering muncul di TV kan si telinga besar itu” sergah Aiden.
“aiden...” panggil Sehun
“y...ya?”
“apa ada yang sempat mengambil foto dirimu
ditempat kejadian?” sehun bertanya tajam dengan nada menyelidik.
“ti..tidak. tentu saja tidak. Meskipun otakku
kosong, aku tidak bodoh” jawab aiden berusaha meyakinkan.
“B-1D berarti P. Karena didalam B megandung
dua unsur huruf D. Jika yang dibawah dihilangkan, maka akan timbul huruf P.
Awalnya aku mengira bahwa ini adalah huruf b, namun bagian bawahnya agak
melekuk sehingga tidak mungkin itu adalah b. Selanjutnya 22 mengarah ke huruf
BB. Yang jika disatukan menjadi PBB. PBB akan melaksanakan rapat besar-besaran
minggu depan. Dan kesimpulanku adalah, Grim Reaper akan mengacaukan rapat itu.
Bukan, begitu, kawan kecil?” sosok di televisi itu tersenyum.
“kusso! Dia mengejek kita!” seru aiden
Sehun mengalihkan pandangannya pada sosok
yang berjongkok diatas meja.
“dia lawan yang tangguh, Sehun.” Ucap sosok
itu tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
“dialah yang selama setahun ini selalu
memecahkan kodeku dibalik layar. Dan kini ia menampakkan diri. Aku bisa
merasakan auranya. Dia itu tangguh” jelas sosok itu lagi. Ia membulatkan mata
kelabunya.
“aneh sekali. Ini tidak seperti dirimu, V.”
curiga sehun.
“tidak ada yang aneh. V hanya baru saja
menemukan rivalnya yang selama ini terhalang oleh layar kaca. Maksudku adalah,
permainan baru saja dimulai.” ucap sosok lain sembari memegang gelas wine nya.
“apa rencanamu, Eric?” selidik sehun sembari
melirik ke sosok itu.
Sosok itu hanya tersenyum “aku punya rencana
yang besar”.
“sudah kau dapatkan?” selidik Baekhyun.
“iya. Tidak lain dan tidak bukan. Inilah
pemimpin Grim Reaper.” balas Chanyeol sembari menyodorkan sebuah amplop kuning.
Baekhyun membuka amplop itu dengan terburu
buru dan segera mengambil isinya.
“ckck... mengapa harus menjadi ketua geng
nakal jika kau bisa menjadi model? Anak dungu.” Omel Baekhyun sembari
mejentik-jentikkan jarinya ke foto-foto tersebut.
“apa kita harus mempublikasikannya?” tanya
Chanyeol.
“tidak sekarang.” Balas Baekhyun. “dan tolong
hal ini jangan kau sebarkan ke siapapun” perintahnya.
Ia membawa kedua foto tersebut dan
menempelkannya di dinding.
“jika disebar sekarang, nanti Grim Reaper akan
cepat tertangkap dan semua kesenangan akan hilang” ucapnya seraya mengambil
sebuah busur dan panah.
“apa kau bilang? Jadi menurutmu kita sedang
bermain-main?” Chanyeol terbelalak.
“tidak, tentu saja tidak. Hanya saja,
pikiranku belum cukup dewasa untuk bisa bekerja dengan serius.” Baekhyun
membidik kedua foto itu dan menancapkan anak panahnya tepat diantara kedua foto
tersebut.
Washington D.C, 3 days later.
“Byun Baekhyun. kare ga nihonjinde wa nakatta
koto wa akirakadatta.”
(Byun Baekhyun. Jelas sekali bahwa dia bukan
orang jepang)
V berucap penuh selidik.
Sehun terus mengawasi V dengan penuh selidik.
V adalah anggota favoritnya dan dia belum pernah melihat V se-antusias ini. V
adalah seorang anak dari panti asuhan terpencil dan memiliki otak yang jenius. V
lah yang selama ini membobol semua operator perusahaan maupun pemerintahan
untuk keperluan Grim Reaper. V lah otak dari semua masalah yang diperbuat oleh
Grim Reaper. Sehun telah bersama V sedari mereka kecil. V berperawakan sekitar
180cm, dengan rambut hitam lurus yang menutupi matanya. Selalu berpakaian
simple. Jeans dan kaus oblong. Tak pernah memakai sendal. Selalu memakai sepatu
dengan alasan “tanah itu kotor”. V menciptakan suatu labirin rumit di sebuah
gang hingga hanya anggota geng saja yang dapat memecahkannya hingga ke tempat
persembunyian mereka. Ia juga mengatur rancangan jalanan bawah tanah untuk
keperluan Grim Reaper. Sehingga jika Grim Reaper ingin berpergian, mereka
tinggal menelusuri jalan bawah tanah itu dan ujungnya berpusat pada sebuah
rumah ditengah kota sehingga gang rahasia mereka tidak akan mencurigakan
siapapun. Jalan bawah tanah yang dibangun oleh Grim Reaper bukanlah jalanan
bawah tanah yang usang dan kotor. Tetapi suatu lorong putih bersih. Hal
dikarenakan V membenci kotor.
V mengotak-atik komputer didepannya. Berbagai
kode muncul dan gerakan tangannya sangat piawai dalam mengetikkan kode-kode
tersebut. Beberapa menit kemudian sebuah kode muncul. Kode berupa 7 digit
nomor.
“sudah kau temukan?” selidik aiden.
“ya. Kau dan Jisan tinggal bereskan sisanya”
balasnya singkat sembari menyedot minuman susunya.
“yoshh...” ucap aiden senang.
Washington DC, 2 days later.
“apa kau yakin tidak akan terjadi masalah?”
selidik Chanyeol.
“tidak. Semua tempat sudah diteliti. Tidak
ada yang mencurigakan.”
Chanyeol dan Baekhyun mengawasi jalannya
rapat PBB. Upacara pembukaan baru saja selesai dan Presiden USA baru saja
menyelesaikan kalimat terakhir pidatonya ketika tiba-tiba seluruh sound system
mati dan layar proyektor besar diatas menampakkan sesuatu.
Seiring dengan munculnya gambar itu, sebuah
suara muncul dari semua soundsystem yang ada disitu. Suara yang disamarkan.
“Watashitachiha shinigamidesu.”
(kami adalah dewa kematian – in eng: Grim
Reaper)
“kami telah meletakkan sebuah bom berbentuk
micro SD didalam jas presiden USA yang terhormat. Pertahanan USA buruk sekali
karena kode rumah dan kamar presiden sangat mudah dibobol oleh tim kami.
Seburuk itukah teknologi Amerika? Bom itu akan menyapu habis seluruh isi gedung
jika kalian tidak segera menjinakkannya. Untuk menjinakkannya, kalian hanya
tinggal memasukkan micro SD tersebut kedalam ponsel dan mengetik kodenya dalam
sebuah pesan singkat dan kirimkan ke nomor +17772. Tentu saja, untuk
mendapatkan kodenya, kita akan bermain-main dahulu. Kalian hanya memiliki 2
kali kesempatan untuk mencoba. Dan jika dua-duanya gagal, matilah kalian. Aku
yakin disana sedang berdiri seseorang bernama Byun Baekhyun. Mari kita lihat
seberapa jauh kepintaranmu, dude. Waktumu 30menit”
Suara itu menghilang seiring dengan munculnya
sebuah kode memusingkan di layar proyektor.
WWW><+5<W>U -- % -- # -- & --
@ -- G.R
“keparat. Sialan!” amuk Chanyeol.
Seluruh ruangan gaduh dan ketakutan. Pintu
tidak dapat dibuka. Semua yang didalam adalah sanderaan.
Baekhyun menutup matanya, menghembuskan nafas
pelan sembari memandang tenang ke arah kode. Ia mengambil notebook dari dalam
sakunya dan mulai mencoret dengan pensilnya.
“WWW terdiri dari 6 V. Too obvious. Bakayaro”
geramnya.
“>< sering diibaratkan dengan cermin
yang berlawanan. Artinya + >< = - baiklah kode pertama V.” Peluh
bercucuran dari pelipisnya.
“<W? Kurang dari W? Sebelum W? Tentu saja
V. Ah, apakah ini hanya pendukung kode sebelumnya? Sebentar... >U ? lebih
dari U? Setelah U? Tentu saja V. Apakah double V atau hanya 1 V namun dengan 3
clue?” ia menjambak rambutnya dan menggaruk belakang telinganya. Ia melirik
arlojinya dan terkejut waktu tersisa 15 menit lagi.
Ia menarik sebuah kursi dan berjongkok
diatasnya. Ia memandangi lekat-lekat kode tersebut.
“% -- # -- & -- @ -- G.R. kode paling
ujung tentu saja Gream Reaper. Jika dalam rumus keyboard komputer , % = 5.” Ia
bergegas menuju salah satu laptop terdekat dan mencatat. “5372GR” ucapnya.
“baiklah... apakah kode ini VVV5372GR?”
kepala kirinya terasa sakit. Ia meminta micro SD itu dan memasukkan ke
ponselnya. Seluruh ruangan terdiam penuh harap ketika ia mulai mengetik.
“VVV5372GR”
“SALAH!” suara itu kembali berbunyi. Membuat
seisi ruangan mendesah kecewa. Baekhyun terdiam. Ia geram.
“baiklah. Tinggal satu dugaan tersisa.” Ia
menarik nafas panjang lalu mulai mengetik lagi. Keringat bercucuran dari
pelipis dan lehernya. Ia sangat tegang.
“V5372GR”
Message sent.
Beberapa detik berlalu, semenit berlalu,
tidak ada suara berbunyi. Semua menunggu dengan cemas.
“Anata wa subarashī, Baekhyun.”
(kau hebat, Baekhyun)
suara
itu kembali berbunyi. Kali ini berbeda dari suara sebelumnya. Jika suara
sebelumnya terkesan penuh semangat, suara kali ini terdengar lembut dan tenang.
“semua aman. Bom tersebut sudah dijinakkan.
Tunggu kekacauan dari kami segera” suara itu seketika menghilang.
Baekhyun terduduk lega. Chanyeol
menghampirinya dan menepuk pundaknya. Mereka tersenyum puas. Seluruh ruangan
bertepuk tangan.
5 orang lainnya yang sedang berada dikamar
hotel pun tersenyum.
“Wareware wa futatabi au yoteida.”
-TO BE CONTINUED-



Tidak ada komentar:
Posting Komentar