Jumat, 17 April 2015

GRIM REAPER VS THE POLICE. (PART.1)

Lelaki bertubuh tinggi itu berjalan dalam diam. Mata biru-kelabunya menyapu seluruh bagian jalanan. Seberkas kecemasan bercampur ketegangan terlihat dari sudut matanya. Tak dapat dipungkiri, ia sedang waspada. Jalanan itu penuh orang, khas jalanan Tokyo yang penduduknya rata-rata lebih memilih berjalan kaki daripada harus mengotori udara dengan asap kendaraan. Lelaki itu berhenti didepan suatu mesin minuman dan memasukkan sebuah logam, mengambil minumannya dan melanjutkan langkahnya menuju suatu gang gelap kecil yang agak tersembunyi dari keramaian. Ia menyelinap dengan sempurna kedalam gang itu, tetap melangkah dengan tenang, walau tetap terlihat bahwa ia tegang. Tak dapat dipungkiri, apalagi disangkal.

Gang itu berkelok, entah dimana ujungnya. Tak ada yang tau. Bagaikan labirin, gang itu bisa menyesatkan siapapun yang masuk kedalamnya. Tetapi tidak dengan lelaki ini. Temannya lah yang menciptakan gang rumit tersebut, dengan satu tujuan “KEAMANAN”.

Satu tegukan soda, ia masih berjalan tenang. Berbelok belok ke kiri ke kanan tanpa keraguan setitik pun. Tegukan soda yang terakhir, ia sampai ke sebuah pintu kayu bertuliskan “DILARANG MASUK”. Ia membuka gagang pintu itu dan menghilang dibaliknya. Ia memasuki sebuah lorong remang didalam bangunan dimana pintu tadi menempel. Lorong tersebut hanya dilampui dengan beberapa bola lampu temaram yang hampir redup. Ujung lorong itu berbelok ke kanan dan disana ada sebuah ruangan yang juga tak kalah remang dari lorong itu sendiri.

“Anata wa watashi nashi de giron o kaishi? Hijō ni ōheina.”  
(kalian mulai tanpa aku? Sombong sekali.)
Lelaki itu angkat bicara setelah melihat situasi didalam ruangan itu.

3 lelaki lain sedang duduk di kursinya masing-masing. Sementara ditengah tengah, disebuah kursi besar yang terlihat paling mewah daripada kursi yang lain, duduklah seorang lagi lelaki lain, matanya setajam bilah pedang assasin. Kedua matanya memiliki warna yang berbeda. Yang satu berwarna hijau kilat, sementara yang lain berwarna merah darah. Sisa wajahnya ditutup dengan sebuah masker hitam bercorak ular tembaga berkepala dua yang di masing-masing kepala ular tersebut ada mahkota duri yang mengilap dan tajam diletakkan. Lelaki itu mengenakan jaket kulit hitam, melapisi sebuah kaos hitam bercorak putih didalamnya.

“Mōshiwakearimasenga, anata no sonzai wa yūyōde wa arimasen.” 
(maaf, tapi kehadiranmu itu tidaklah berguna.)
Seorang lelaki lain menyahut. Ia berambut coklat dengan potongan half-shaved. Ia duduk berjongkok dikursinya sembari mengendus suatu serbuk putih yang terbungkus kertas ditangannya. Shabu-shabu.

“kusso”
(bajingan)
Balas lelaki tadi dengan nada dingin namun tenang. Ia melirik tajam ke arah lelaki berambut coklat tadi.

“nante ne.”
(hanya bercanda)
Jawab lelaki berambut coklat itu santai sembari menghirup shabu-shabunya penuh nikmat.

“Sō, Ji-san, naze anata wa okurete iru?”
(jadi, mengapa kau terlambat?)
Tanya seorang lelaki lain yang sedang sibuk menatap gelas berisi wine ditangannya. Ia memiliki mata kecil yang tajam dan membunuh.

“berhentilah menggunakan bahasa yang tidak ku pahami.” Celetuk seseorang yang kini sedang berjongkok diatas meja dan memainkan ujung rambutnya dengan santai. Tatapannya lurus menatap tembok didepannya.

“aku terhambat sesuatu” lelaki bernama Jisan (Ji-san) tadi menjawab.

“nani koto?”
(apa itu?)
Tanya lelaki berambut coklat. Namanya adalah Aiden.

“keisatsu.”
(polisi)
Jawab Jisan singkat sembil menghempaskan tubuhnya di kursi.

Jawaban singkat Jisan mendapat tatapan mengerikan dari lelaki bermasker.

“mereka mengejarku. Untungnya aku sempat melarikan diri. Jika itu Aiden, mungkin ia sudah mendekam di penjara saat ini. Dia kan bodoh” cibir Jisan santai.

“chikishou!!!!!!!!”
(bangsat!)
Sembur Aiden sembari menghentakkan telapak tangannya kemeja.

“nan dayo?”
(apa kau?)
Balas Jisan malas.

“baka  yarou!”
(dasar bodoh!)
Kesal Aiden. Wajahnya memerah.

“naru hodo”
(begitu rupanya...)
Lelaki bermasker akhirnya angkat bicara. Ia melepas maskernya dan kini terlihat jelaslah wajahnya. Seluruh anggota lain di ruangan itu melirik segan ke arahnya.

“dia benar-benar menantangku.” Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. Tidak, kurasa itu bukan senyuman. Itu lebih seperti seringaian. “kalau begitu, mari bermain.” Tambahnya.

“apa rencanamu kali ini, Sehun?” tanya lelaki yang berjongkok diatas meja.

Seringai tipis itu masih terpasang sempurna “siapkan tiket menuju Amerika. Kita akan meneror rapat PBB minggu depan”

“he?..... Masaka.... sehun? Apa kau serius?”
Jisan terbangun dan memasang wajah tak setuju.

“apa kau menolak perintah Raja?” selidik Sehun kearahnya. Kedua mata itu membuat Jisan tunduk.

“Wakatta”
(mengerti.)
Ucap Jisan singkat.

“kau itu pengecut. Itu sebabnya kau tidak bisa melampauiku. Tetaplah menjadi pengecut dan pada akhirnya kau hanya akan menjadi sampah busuk yang tidak berguna” ucap Sehun dingin.


------------------------------------------00----------------------------------00----------------------------------------------------

“hey, apa kau tidak tidur?” tanya seseorang pada seseorang didepannya yang sibuk berpikir.

“tidak sebelum aku menemukan cara untuk menangkap anak-anak nakal ini” sahut orang itu.


Kring... dering telfon memenuhi ruangan itu.

“kepolisian Tokyo disini. Apa? Dirampok? Baiklah. Kami akan sampai di lokasi kejadian 15 menit dari sekarang.”

Telfon ditutup.

“dimana?”

“di sekitar tokyo dome”

Kedua orang itu bergegas mengambil jaket masing-masing. Tak lama berselang, pintu tertutup kencang dan mobil dinyalakan. Sedetik berlalu, mobil tersebut sudah melaju kencang.

Suasana ramai meliputi kawasan sekitar Tokyo dome. Dua orang turun dari sebuah mobil dan langsung menghampiri lokasi kejadian. Kejadian perampokan sebuah bank ternama baru saja terjadi.

“Baekhyun! Chanyeol” panggil seseorang dengan suara berat. Yang dipanggil segera menghampiri sosok bertubuh tambun tersebut.

“ah, pak kepala. Mengapa anda sibuk-sibuk datang ke TKP? Serahkan saja pada kami” Baekhyun memberi hormat seraya berkata dengan sopan.

“aku berharap bisa melihat sendiri pelaku itu. Tidak lain dan tidak bukan, mereka adalah Grim Reaper Gang” geram pria baruh baya itu.

“kalian masuklah kesana. Kudengar mereka berhasil mengambil sekilas foto salah satu dari geng itu” perintah sang kepala.

Baekhyun dan Chanyeol pun memberi hormat seraya bergegas memasuki bank.

“kusso. Keparat! Lihat saja jika kutemukan. Akan kutelan hidup-hidup!” geram Chanyeol.

“urusai! Jaga bicaramu. Banyak saksi masyarakat disini” tegur Baekhyun.

“tch... benar-benar membuat emosi. Geng jalanan tak bermutu” maki Chanyeol.

Tak lama berselang, mereka memasuki ruangan bank. Line police terpampang dimana-mana.

“Baekhyun, untunglah kau datang. Ini foto yang sempat kami ambil.” Salah seorang polisi menyerahkan sebuah foto pada Baekhyun.

“half-shaved, huh? Coklat... benar-benar kekanakan. Sayang sekali memakai masker” bisiknya.

“dan ia meninggalkan ini lalu pergi dalam sekejap mata.” Polisi tadi menyerahkan secarik kertas.

Baekhyun membacanya dengan teliti.

-hebat sekali, polisi. Kalian berhasil mengetahui tentang kami. Kalian terus mengikuti kami selama setahun ini. Apakah kalian tidak ada hiburan? Kami akan memberikan kalian hiburan. Mari bermain-main dengan menyelesaikan kode dibawah ini terlebih dahulu

B-1D. 22

Itu adalah tujuan pengacauan kami minggu depan. Jangan sampai terlambat, atau hiburan tidak akan bisa kalian dapatkan. Salam, SEJAV!-

Chanyeol menarik kertas itu dan membacanya.

“anak-anak keparat.” Geramnya.

Baekhyun mengambil kursi dan berjongkok diatasnya seraya memainkan rambutnya dan menghadap tembok didepannya.


2 days later......

Lelaki itu berjongkok diatas meja dan memainkan rambutnya. Ia memainkan permen karet yang bertengger seperti balon di mulutnya. Pandangannya fokus ke televisi didepannya. Tampak seseorang yang mirip seperti dirinya sedang berbicara dalam sebuah konferensi pers.

“kami telah memecahkan kode dari sebuah geng remaja bernama Grim Reaper yang dua hari lalu membobol bank Teiko di kawasan Tokyo Dome” jelas orang didalam televisi tersebut

“orang itu... aku tidak pernah melihatnya sebelumnya” Jisan angkat bicara sembari meminum soda.

“akupun baru sekali melihatnya. Baru kali ini. Yang sering muncul di TV kan si telinga besar itu” sergah Aiden.

“aiden...” panggil Sehun

“y...ya?”

“apa ada yang sempat mengambil foto dirimu ditempat kejadian?” sehun bertanya tajam dengan nada menyelidik.

“ti..tidak. tentu saja tidak. Meskipun otakku kosong, aku tidak bodoh” jawab aiden berusaha meyakinkan.

“B-1D berarti P. Karena didalam B megandung dua unsur huruf D. Jika yang dibawah dihilangkan, maka akan timbul huruf P. Awalnya aku mengira bahwa ini adalah huruf b, namun bagian bawahnya agak melekuk sehingga tidak mungkin itu adalah b. Selanjutnya 22 mengarah ke huruf BB. Yang jika disatukan menjadi PBB. PBB akan melaksanakan rapat besar-besaran minggu depan. Dan kesimpulanku adalah, Grim Reaper akan mengacaukan rapat itu. Bukan, begitu, kawan kecil?” sosok di televisi itu tersenyum.

“kusso! Dia mengejek kita!” seru aiden

Sehun mengalihkan pandangannya pada sosok yang berjongkok diatas meja.

“dia lawan yang tangguh, Sehun.” Ucap sosok itu tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

“dialah yang selama setahun ini selalu memecahkan kodeku dibalik layar. Dan kini ia menampakkan diri. Aku bisa merasakan auranya. Dia itu tangguh” jelas sosok itu lagi. Ia membulatkan mata kelabunya.

“aneh sekali. Ini tidak seperti dirimu, V.” curiga sehun.

“tidak ada yang aneh. V hanya baru saja menemukan rivalnya yang selama ini terhalang oleh layar kaca. Maksudku adalah, permainan baru saja dimulai.” ucap sosok lain sembari memegang gelas wine nya.

“apa rencanamu, Eric?” selidik sehun sembari melirik ke sosok itu.

Sosok itu hanya tersenyum “aku punya rencana yang besar”.


“sudah kau dapatkan?” selidik Baekhyun.

“iya. Tidak lain dan tidak bukan. Inilah pemimpin Grim Reaper.” balas Chanyeol sembari menyodorkan sebuah amplop kuning.

Baekhyun membuka amplop itu dengan terburu buru dan segera mengambil isinya.





“ckck... mengapa harus menjadi ketua geng nakal jika kau bisa menjadi model? Anak dungu.” Omel Baekhyun sembari mejentik-jentikkan jarinya ke foto-foto tersebut.

“apa kita harus mempublikasikannya?” tanya Chanyeol.

“tidak sekarang.” Balas Baekhyun. “dan tolong hal ini jangan kau sebarkan ke siapapun” perintahnya.

Ia membawa kedua foto tersebut dan menempelkannya di dinding.

“jika disebar sekarang, nanti Grim Reaper akan cepat tertangkap dan semua kesenangan akan hilang” ucapnya seraya mengambil sebuah busur dan panah.

“apa kau bilang? Jadi menurutmu kita sedang bermain-main?” Chanyeol terbelalak.

“tidak, tentu saja tidak. Hanya saja, pikiranku belum cukup dewasa untuk bisa bekerja dengan serius.” Baekhyun membidik kedua foto itu dan menancapkan anak panahnya tepat diantara kedua foto tersebut.


Washington D.C, 3 days later.

“Byun Baekhyun. kare ga nihonjinde wa nakatta koto wa akirakadatta.”
(Byun Baekhyun. Jelas sekali bahwa dia bukan orang jepang)
V berucap penuh selidik.

Sehun terus mengawasi V dengan penuh selidik. V adalah anggota favoritnya dan dia belum pernah melihat V se-antusias ini. V adalah seorang anak dari panti asuhan terpencil dan memiliki otak yang jenius. V lah yang selama ini membobol semua operator perusahaan maupun pemerintahan untuk keperluan Grim Reaper. V lah otak dari semua masalah yang diperbuat oleh Grim Reaper. Sehun telah bersama V sedari mereka kecil. V berperawakan sekitar 180cm, dengan rambut hitam lurus yang menutupi matanya. Selalu berpakaian simple. Jeans dan kaus oblong. Tak pernah memakai sendal. Selalu memakai sepatu dengan alasan “tanah itu kotor”. V menciptakan suatu labirin rumit di sebuah gang hingga hanya anggota geng saja yang dapat memecahkannya hingga ke tempat persembunyian mereka. Ia juga mengatur rancangan jalanan bawah tanah untuk keperluan Grim Reaper. Sehingga jika Grim Reaper ingin berpergian, mereka tinggal menelusuri jalan bawah tanah itu dan ujungnya berpusat pada sebuah rumah ditengah kota sehingga gang rahasia mereka tidak akan mencurigakan siapapun. Jalan bawah tanah yang dibangun oleh Grim Reaper bukanlah jalanan bawah tanah yang usang dan kotor. Tetapi suatu lorong putih bersih. Hal dikarenakan V membenci kotor.

V mengotak-atik komputer didepannya. Berbagai kode muncul dan gerakan tangannya sangat piawai dalam mengetikkan kode-kode tersebut. Beberapa menit kemudian sebuah kode muncul. Kode berupa 7 digit nomor.

“sudah kau temukan?” selidik aiden.

“ya. Kau dan Jisan tinggal bereskan sisanya” balasnya singkat sembari menyedot minuman susunya.

“yoshh...” ucap aiden senang.


Washington DC, 2 days later.

“apa kau yakin tidak akan terjadi masalah?” selidik Chanyeol.

“tidak. Semua tempat sudah diteliti. Tidak ada yang mencurigakan.”

Chanyeol dan Baekhyun mengawasi jalannya rapat PBB. Upacara pembukaan baru saja selesai dan Presiden USA baru saja menyelesaikan kalimat terakhir pidatonya ketika tiba-tiba seluruh sound system mati dan layar proyektor besar diatas menampakkan sesuatu.



Seiring dengan munculnya gambar itu, sebuah suara muncul dari semua soundsystem yang ada disitu. Suara yang disamarkan.

“Watashitachiha shinigamidesu.”
(kami adalah dewa kematian – in eng: Grim Reaper)

“kami telah meletakkan sebuah bom berbentuk micro SD didalam jas presiden USA yang terhormat. Pertahanan USA buruk sekali karena kode rumah dan kamar presiden sangat mudah dibobol oleh tim kami. Seburuk itukah teknologi Amerika? Bom itu akan menyapu habis seluruh isi gedung jika kalian tidak segera menjinakkannya. Untuk menjinakkannya, kalian hanya tinggal memasukkan micro SD tersebut kedalam ponsel dan mengetik kodenya dalam sebuah pesan singkat dan kirimkan ke nomor +17772. Tentu saja, untuk mendapatkan kodenya, kita akan bermain-main dahulu. Kalian hanya memiliki 2 kali kesempatan untuk mencoba. Dan jika dua-duanya gagal, matilah kalian. Aku yakin disana sedang berdiri seseorang bernama Byun Baekhyun. Mari kita lihat seberapa jauh kepintaranmu, dude. Waktumu 30menit”

Suara itu menghilang seiring dengan munculnya sebuah kode memusingkan di layar proyektor.

WWW><+5<W>U -- % -- # -- & -- @ -- G.R

“keparat. Sialan!” amuk Chanyeol.

Seluruh ruangan gaduh dan ketakutan. Pintu tidak dapat dibuka. Semua yang didalam adalah sanderaan.

Baekhyun menutup matanya, menghembuskan nafas pelan sembari memandang tenang ke arah kode. Ia mengambil notebook dari dalam sakunya dan mulai mencoret dengan pensilnya.

“WWW terdiri dari 6 V. Too obvious. Bakayaro” geramnya.

“>< sering diibaratkan dengan cermin yang berlawanan. Artinya + >< = - baiklah kode pertama V.” Peluh bercucuran dari pelipisnya.

“<W? Kurang dari W? Sebelum W? Tentu saja V. Ah, apakah ini hanya pendukung kode sebelumnya? Sebentar... >U ? lebih dari U? Setelah U? Tentu saja V. Apakah double V atau hanya 1 V namun dengan 3 clue?” ia menjambak rambutnya dan menggaruk belakang telinganya. Ia melirik arlojinya dan terkejut waktu tersisa 15 menit lagi.


Ia menarik sebuah kursi dan berjongkok diatasnya. Ia memandangi lekat-lekat kode tersebut.

“% -- # -- & -- @ -- G.R. kode paling ujung tentu saja Gream Reaper. Jika dalam rumus keyboard komputer , % = 5.” Ia bergegas menuju salah satu laptop terdekat dan mencatat. “5372GR” ucapnya.

“baiklah... apakah kode ini VVV5372GR?” kepala kirinya terasa sakit. Ia meminta micro SD itu dan memasukkan ke ponselnya. Seluruh ruangan terdiam penuh harap ketika ia mulai mengetik.

“VVV5372GR”

“SALAH!” suara itu kembali berbunyi. Membuat seisi ruangan mendesah kecewa. Baekhyun terdiam. Ia geram.

“baiklah. Tinggal satu dugaan tersisa.” Ia menarik nafas panjang lalu mulai mengetik lagi. Keringat bercucuran dari pelipis dan lehernya. Ia sangat tegang.

“V5372GR”
Message sent.

Beberapa detik berlalu, semenit berlalu, tidak ada suara berbunyi. Semua menunggu dengan cemas.

“Anata wa subarashī, Baekhyun.”
(kau hebat, Baekhyun)
 suara itu kembali berbunyi. Kali ini berbeda dari suara sebelumnya. Jika suara sebelumnya terkesan penuh semangat, suara kali ini terdengar lembut dan tenang.

“semua aman. Bom tersebut sudah dijinakkan. Tunggu kekacauan dari kami segera” suara itu seketika menghilang.

Baekhyun terduduk lega. Chanyeol menghampirinya dan menepuk pundaknya. Mereka tersenyum puas. Seluruh ruangan bertepuk tangan.

5 orang lainnya yang sedang berada dikamar hotel pun tersenyum.

“Wareware wa futatabi au yoteida.”


-TO BE CONTINUED-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar