Sabtu, 18 April 2015

GRIM REAPER VS THE POLICE. (CHAP 2 : A BIT ABOUT THE GRIM REAPER)

Grim Reaper is a well-known gang in Tokyo who has done so much mischief troubling. however, this gang is confidential. no one knows who are the members. society can only grope and guess without ever knows who the members truly are. many boys have been arrested on charges as members of the Grim Reaper, but none is proven to be part of the gang. this situation attracts a young-handsome cop who seems to want to solve this problem. soon, it will become a fierce battle between the gang and the police along with the young cop. Grim Reaper's brutality keep increasing. it pushes the police to act over and over again. 

Tokyo, 1 week later.

“we’re being underestimated. They decoded it easily.” Aiden speaks in anger

“stop bitching. V’s a smartass. He ain’t gonna give up so easily” Jisan speaks calmly. his eyes are fixed on V that looks deep in thought.

“let’s not push him, though” Eric settles down the atmosphere.

Sehun closes his eyes as he tapping the tip of his finger on the arm of the chair. he and V are both in deep thoughts.

“i know how to do with ‘em” Sehun speaks coldly. All eyes are focused on him.

“you know what? You don’t live in the world you think you do” he continues.

“we gotta bear down those cops and put them in rough shape” he talks in anger.

He walks slowly towards a desk as his eyes staring at V who still looks in deep thought. He takes out something from the drawer. It’s a book. A strange book. All eyes bend on it.

“my apologize, you goddamned highness, but i have to beg off your will” V talks quietly as his eyes glare at the book.

“i may not give up. I’ll bluff it out with my own brain. not with that book” he continues.

“what the hell is going on? Can somebody tell me what damn book is that?” Aiden asks around.

“this book is a death note.” Sehun begins to explain.

“anyone whose name is written in this book.......... shall die” He closes his explanation with a serious look.

“you’re so witty, Sehun. Seriously. It’s funny though a bit scary” Jisan chuckles.

“no joke added” Sehun puts on a serious expression on his face.

“he’s not joking around, dude.” V talks softly.

“think twice, Sehun. You dont realize the danger you’re gonna put us in” V suggests.

“Don’t attach importance to ourselves. Mind the others. Mind the citizens. They’re all human beings. They have lives they through.” He continues.

“since when did you become a coward?” Sehun asks V coldly.

“you’re gonna beat the air if you do so.” V replies.

“you have no rights to objecting my will” Sehun talks furiously.

“though i have no idea what silly thing you both are debating, but i’m on V’s side. Sehun, you better don’t bite a file here. Nobody will take the responsibility” Eric speaks steadily as he stands and embraces V’s shoulder.

“i will” Sehun speaks calmly. “my parents were killed by this book. My bigbro had used it undetectably. He killed many people, including my parents. the police laughed at me when i was talking about this book. They said my imagination was too out of wonder. I was only a 6 years old boy who didn’t understand much about this book. 2 days after my parents passed away, my bigbro bite the dust. I added up to fixed the problem along with him but failed. Since then, i lived my life alone, until someone from the orphanage found me lying on the roadside. starving. I met many new friends at the orphanage. But still, i felt lonely and empty. until one day, I met with V. we played together, and finally I told him my problem. My deepest secret. The book. He was very interested and wanted to try the book. at that moment, I could stop him, but failed. he wrote the name of a fugitive criminal  whose face was displayed on TV. 40 seconds later, the criminal died by heart attack. We both were shocked. V told me to threw away the book, but I refused. I grudge against the police. That’s why i created this dope gang so that i can beat ‘em down. You guys are my followers but also my best dudes. Sorry if i always act cocky and bossy towards you. but it's all for the sake of revenge. Maybe for you, this all is nothing but a game. But not for me. I beg you guys to still stay by my side.” Sehun sobs while putting down his knees on the floor infront of his dudes.

V ups to him and thrusts hand. He helps Sehun to stand straightly.

“we are up to something. We have to block in what our goal is. there will be many casualties. Are you guys in?” V utters as he glances at the other three.

“i’m in” Jisan speaks loudly
“me too” Aiden continues
“me three” Eric raises his hand.

Sehun and V smile as they look at each other.

“you with me?” sehun asks.

“to the death, bruh” V replies.

-TO BE CONTINUED-

Idioms and Slangs :

stop bitching = berhentilah mengomel.
Smartass = orang pintar.
deep in thought = berpikir keras.
bear down = mengalahkan.
put them in rough shape = membuat mereka terdesak/khawatir/gelisah.
you goddamned highness = yang mulia yang terkutuk.
beg off your will = menolak kehendakmu.
All eyes bend on it. = semua mata terfokus pada itu. (bend on = fokus, terpaku, memperhatikan).
bluff it out = bertahan (dalam situasi sulit).
attach importance to ourselves = mementingkan kepentingan sendiri.
beat the air = melakukan hal yang sia-sia.
don’t bite a file = jangan melakukan sesuatu yang berbahaya.
TEEHEE!







Jumat, 17 April 2015

GRIM REAPER VS THE POLICE. (PART.1)

Lelaki bertubuh tinggi itu berjalan dalam diam. Mata biru-kelabunya menyapu seluruh bagian jalanan. Seberkas kecemasan bercampur ketegangan terlihat dari sudut matanya. Tak dapat dipungkiri, ia sedang waspada. Jalanan itu penuh orang, khas jalanan Tokyo yang penduduknya rata-rata lebih memilih berjalan kaki daripada harus mengotori udara dengan asap kendaraan. Lelaki itu berhenti didepan suatu mesin minuman dan memasukkan sebuah logam, mengambil minumannya dan melanjutkan langkahnya menuju suatu gang gelap kecil yang agak tersembunyi dari keramaian. Ia menyelinap dengan sempurna kedalam gang itu, tetap melangkah dengan tenang, walau tetap terlihat bahwa ia tegang. Tak dapat dipungkiri, apalagi disangkal.

Gang itu berkelok, entah dimana ujungnya. Tak ada yang tau. Bagaikan labirin, gang itu bisa menyesatkan siapapun yang masuk kedalamnya. Tetapi tidak dengan lelaki ini. Temannya lah yang menciptakan gang rumit tersebut, dengan satu tujuan “KEAMANAN”.

Satu tegukan soda, ia masih berjalan tenang. Berbelok belok ke kiri ke kanan tanpa keraguan setitik pun. Tegukan soda yang terakhir, ia sampai ke sebuah pintu kayu bertuliskan “DILARANG MASUK”. Ia membuka gagang pintu itu dan menghilang dibaliknya. Ia memasuki sebuah lorong remang didalam bangunan dimana pintu tadi menempel. Lorong tersebut hanya dilampui dengan beberapa bola lampu temaram yang hampir redup. Ujung lorong itu berbelok ke kanan dan disana ada sebuah ruangan yang juga tak kalah remang dari lorong itu sendiri.

“Anata wa watashi nashi de giron o kaishi? Hijō ni ōheina.”  
(kalian mulai tanpa aku? Sombong sekali.)
Lelaki itu angkat bicara setelah melihat situasi didalam ruangan itu.

3 lelaki lain sedang duduk di kursinya masing-masing. Sementara ditengah tengah, disebuah kursi besar yang terlihat paling mewah daripada kursi yang lain, duduklah seorang lagi lelaki lain, matanya setajam bilah pedang assasin. Kedua matanya memiliki warna yang berbeda. Yang satu berwarna hijau kilat, sementara yang lain berwarna merah darah. Sisa wajahnya ditutup dengan sebuah masker hitam bercorak ular tembaga berkepala dua yang di masing-masing kepala ular tersebut ada mahkota duri yang mengilap dan tajam diletakkan. Lelaki itu mengenakan jaket kulit hitam, melapisi sebuah kaos hitam bercorak putih didalamnya.

“Mōshiwakearimasenga, anata no sonzai wa yūyōde wa arimasen.” 
(maaf, tapi kehadiranmu itu tidaklah berguna.)
Seorang lelaki lain menyahut. Ia berambut coklat dengan potongan half-shaved. Ia duduk berjongkok dikursinya sembari mengendus suatu serbuk putih yang terbungkus kertas ditangannya. Shabu-shabu.

“kusso”
(bajingan)
Balas lelaki tadi dengan nada dingin namun tenang. Ia melirik tajam ke arah lelaki berambut coklat tadi.

“nante ne.”
(hanya bercanda)
Jawab lelaki berambut coklat itu santai sembari menghirup shabu-shabunya penuh nikmat.

“Sō, Ji-san, naze anata wa okurete iru?”
(jadi, mengapa kau terlambat?)
Tanya seorang lelaki lain yang sedang sibuk menatap gelas berisi wine ditangannya. Ia memiliki mata kecil yang tajam dan membunuh.

“berhentilah menggunakan bahasa yang tidak ku pahami.” Celetuk seseorang yang kini sedang berjongkok diatas meja dan memainkan ujung rambutnya dengan santai. Tatapannya lurus menatap tembok didepannya.

“aku terhambat sesuatu” lelaki bernama Jisan (Ji-san) tadi menjawab.

“nani koto?”
(apa itu?)
Tanya lelaki berambut coklat. Namanya adalah Aiden.

“keisatsu.”
(polisi)
Jawab Jisan singkat sembil menghempaskan tubuhnya di kursi.

Jawaban singkat Jisan mendapat tatapan mengerikan dari lelaki bermasker.

“mereka mengejarku. Untungnya aku sempat melarikan diri. Jika itu Aiden, mungkin ia sudah mendekam di penjara saat ini. Dia kan bodoh” cibir Jisan santai.

“chikishou!!!!!!!!”
(bangsat!)
Sembur Aiden sembari menghentakkan telapak tangannya kemeja.

“nan dayo?”
(apa kau?)
Balas Jisan malas.

“baka  yarou!”
(dasar bodoh!)
Kesal Aiden. Wajahnya memerah.

“naru hodo”
(begitu rupanya...)
Lelaki bermasker akhirnya angkat bicara. Ia melepas maskernya dan kini terlihat jelaslah wajahnya. Seluruh anggota lain di ruangan itu melirik segan ke arahnya.

“dia benar-benar menantangku.” Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. Tidak, kurasa itu bukan senyuman. Itu lebih seperti seringaian. “kalau begitu, mari bermain.” Tambahnya.

“apa rencanamu kali ini, Sehun?” tanya lelaki yang berjongkok diatas meja.

Seringai tipis itu masih terpasang sempurna “siapkan tiket menuju Amerika. Kita akan meneror rapat PBB minggu depan”

“he?..... Masaka.... sehun? Apa kau serius?”
Jisan terbangun dan memasang wajah tak setuju.

“apa kau menolak perintah Raja?” selidik Sehun kearahnya. Kedua mata itu membuat Jisan tunduk.

“Wakatta”
(mengerti.)
Ucap Jisan singkat.

“kau itu pengecut. Itu sebabnya kau tidak bisa melampauiku. Tetaplah menjadi pengecut dan pada akhirnya kau hanya akan menjadi sampah busuk yang tidak berguna” ucap Sehun dingin.


------------------------------------------00----------------------------------00----------------------------------------------------

“hey, apa kau tidak tidur?” tanya seseorang pada seseorang didepannya yang sibuk berpikir.

“tidak sebelum aku menemukan cara untuk menangkap anak-anak nakal ini” sahut orang itu.


Kring... dering telfon memenuhi ruangan itu.

“kepolisian Tokyo disini. Apa? Dirampok? Baiklah. Kami akan sampai di lokasi kejadian 15 menit dari sekarang.”

Telfon ditutup.

“dimana?”

“di sekitar tokyo dome”

Kedua orang itu bergegas mengambil jaket masing-masing. Tak lama berselang, pintu tertutup kencang dan mobil dinyalakan. Sedetik berlalu, mobil tersebut sudah melaju kencang.

Suasana ramai meliputi kawasan sekitar Tokyo dome. Dua orang turun dari sebuah mobil dan langsung menghampiri lokasi kejadian. Kejadian perampokan sebuah bank ternama baru saja terjadi.

“Baekhyun! Chanyeol” panggil seseorang dengan suara berat. Yang dipanggil segera menghampiri sosok bertubuh tambun tersebut.

“ah, pak kepala. Mengapa anda sibuk-sibuk datang ke TKP? Serahkan saja pada kami” Baekhyun memberi hormat seraya berkata dengan sopan.

“aku berharap bisa melihat sendiri pelaku itu. Tidak lain dan tidak bukan, mereka adalah Grim Reaper Gang” geram pria baruh baya itu.

“kalian masuklah kesana. Kudengar mereka berhasil mengambil sekilas foto salah satu dari geng itu” perintah sang kepala.

Baekhyun dan Chanyeol pun memberi hormat seraya bergegas memasuki bank.

“kusso. Keparat! Lihat saja jika kutemukan. Akan kutelan hidup-hidup!” geram Chanyeol.

“urusai! Jaga bicaramu. Banyak saksi masyarakat disini” tegur Baekhyun.

“tch... benar-benar membuat emosi. Geng jalanan tak bermutu” maki Chanyeol.

Tak lama berselang, mereka memasuki ruangan bank. Line police terpampang dimana-mana.

“Baekhyun, untunglah kau datang. Ini foto yang sempat kami ambil.” Salah seorang polisi menyerahkan sebuah foto pada Baekhyun.

“half-shaved, huh? Coklat... benar-benar kekanakan. Sayang sekali memakai masker” bisiknya.

“dan ia meninggalkan ini lalu pergi dalam sekejap mata.” Polisi tadi menyerahkan secarik kertas.

Baekhyun membacanya dengan teliti.

-hebat sekali, polisi. Kalian berhasil mengetahui tentang kami. Kalian terus mengikuti kami selama setahun ini. Apakah kalian tidak ada hiburan? Kami akan memberikan kalian hiburan. Mari bermain-main dengan menyelesaikan kode dibawah ini terlebih dahulu

B-1D. 22

Itu adalah tujuan pengacauan kami minggu depan. Jangan sampai terlambat, atau hiburan tidak akan bisa kalian dapatkan. Salam, SEJAV!-

Chanyeol menarik kertas itu dan membacanya.

“anak-anak keparat.” Geramnya.

Baekhyun mengambil kursi dan berjongkok diatasnya seraya memainkan rambutnya dan menghadap tembok didepannya.


2 days later......

Lelaki itu berjongkok diatas meja dan memainkan rambutnya. Ia memainkan permen karet yang bertengger seperti balon di mulutnya. Pandangannya fokus ke televisi didepannya. Tampak seseorang yang mirip seperti dirinya sedang berbicara dalam sebuah konferensi pers.

“kami telah memecahkan kode dari sebuah geng remaja bernama Grim Reaper yang dua hari lalu membobol bank Teiko di kawasan Tokyo Dome” jelas orang didalam televisi tersebut

“orang itu... aku tidak pernah melihatnya sebelumnya” Jisan angkat bicara sembari meminum soda.

“akupun baru sekali melihatnya. Baru kali ini. Yang sering muncul di TV kan si telinga besar itu” sergah Aiden.

“aiden...” panggil Sehun

“y...ya?”

“apa ada yang sempat mengambil foto dirimu ditempat kejadian?” sehun bertanya tajam dengan nada menyelidik.

“ti..tidak. tentu saja tidak. Meskipun otakku kosong, aku tidak bodoh” jawab aiden berusaha meyakinkan.

“B-1D berarti P. Karena didalam B megandung dua unsur huruf D. Jika yang dibawah dihilangkan, maka akan timbul huruf P. Awalnya aku mengira bahwa ini adalah huruf b, namun bagian bawahnya agak melekuk sehingga tidak mungkin itu adalah b. Selanjutnya 22 mengarah ke huruf BB. Yang jika disatukan menjadi PBB. PBB akan melaksanakan rapat besar-besaran minggu depan. Dan kesimpulanku adalah, Grim Reaper akan mengacaukan rapat itu. Bukan, begitu, kawan kecil?” sosok di televisi itu tersenyum.

“kusso! Dia mengejek kita!” seru aiden

Sehun mengalihkan pandangannya pada sosok yang berjongkok diatas meja.

“dia lawan yang tangguh, Sehun.” Ucap sosok itu tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

“dialah yang selama setahun ini selalu memecahkan kodeku dibalik layar. Dan kini ia menampakkan diri. Aku bisa merasakan auranya. Dia itu tangguh” jelas sosok itu lagi. Ia membulatkan mata kelabunya.

“aneh sekali. Ini tidak seperti dirimu, V.” curiga sehun.

“tidak ada yang aneh. V hanya baru saja menemukan rivalnya yang selama ini terhalang oleh layar kaca. Maksudku adalah, permainan baru saja dimulai.” ucap sosok lain sembari memegang gelas wine nya.

“apa rencanamu, Eric?” selidik sehun sembari melirik ke sosok itu.

Sosok itu hanya tersenyum “aku punya rencana yang besar”.


“sudah kau dapatkan?” selidik Baekhyun.

“iya. Tidak lain dan tidak bukan. Inilah pemimpin Grim Reaper.” balas Chanyeol sembari menyodorkan sebuah amplop kuning.

Baekhyun membuka amplop itu dengan terburu buru dan segera mengambil isinya.





“ckck... mengapa harus menjadi ketua geng nakal jika kau bisa menjadi model? Anak dungu.” Omel Baekhyun sembari mejentik-jentikkan jarinya ke foto-foto tersebut.

“apa kita harus mempublikasikannya?” tanya Chanyeol.

“tidak sekarang.” Balas Baekhyun. “dan tolong hal ini jangan kau sebarkan ke siapapun” perintahnya.

Ia membawa kedua foto tersebut dan menempelkannya di dinding.

“jika disebar sekarang, nanti Grim Reaper akan cepat tertangkap dan semua kesenangan akan hilang” ucapnya seraya mengambil sebuah busur dan panah.

“apa kau bilang? Jadi menurutmu kita sedang bermain-main?” Chanyeol terbelalak.

“tidak, tentu saja tidak. Hanya saja, pikiranku belum cukup dewasa untuk bisa bekerja dengan serius.” Baekhyun membidik kedua foto itu dan menancapkan anak panahnya tepat diantara kedua foto tersebut.


Washington D.C, 3 days later.

“Byun Baekhyun. kare ga nihonjinde wa nakatta koto wa akirakadatta.”
(Byun Baekhyun. Jelas sekali bahwa dia bukan orang jepang)
V berucap penuh selidik.

Sehun terus mengawasi V dengan penuh selidik. V adalah anggota favoritnya dan dia belum pernah melihat V se-antusias ini. V adalah seorang anak dari panti asuhan terpencil dan memiliki otak yang jenius. V lah yang selama ini membobol semua operator perusahaan maupun pemerintahan untuk keperluan Grim Reaper. V lah otak dari semua masalah yang diperbuat oleh Grim Reaper. Sehun telah bersama V sedari mereka kecil. V berperawakan sekitar 180cm, dengan rambut hitam lurus yang menutupi matanya. Selalu berpakaian simple. Jeans dan kaus oblong. Tak pernah memakai sendal. Selalu memakai sepatu dengan alasan “tanah itu kotor”. V menciptakan suatu labirin rumit di sebuah gang hingga hanya anggota geng saja yang dapat memecahkannya hingga ke tempat persembunyian mereka. Ia juga mengatur rancangan jalanan bawah tanah untuk keperluan Grim Reaper. Sehingga jika Grim Reaper ingin berpergian, mereka tinggal menelusuri jalan bawah tanah itu dan ujungnya berpusat pada sebuah rumah ditengah kota sehingga gang rahasia mereka tidak akan mencurigakan siapapun. Jalan bawah tanah yang dibangun oleh Grim Reaper bukanlah jalanan bawah tanah yang usang dan kotor. Tetapi suatu lorong putih bersih. Hal dikarenakan V membenci kotor.

V mengotak-atik komputer didepannya. Berbagai kode muncul dan gerakan tangannya sangat piawai dalam mengetikkan kode-kode tersebut. Beberapa menit kemudian sebuah kode muncul. Kode berupa 7 digit nomor.

“sudah kau temukan?” selidik aiden.

“ya. Kau dan Jisan tinggal bereskan sisanya” balasnya singkat sembari menyedot minuman susunya.

“yoshh...” ucap aiden senang.


Washington DC, 2 days later.

“apa kau yakin tidak akan terjadi masalah?” selidik Chanyeol.

“tidak. Semua tempat sudah diteliti. Tidak ada yang mencurigakan.”

Chanyeol dan Baekhyun mengawasi jalannya rapat PBB. Upacara pembukaan baru saja selesai dan Presiden USA baru saja menyelesaikan kalimat terakhir pidatonya ketika tiba-tiba seluruh sound system mati dan layar proyektor besar diatas menampakkan sesuatu.



Seiring dengan munculnya gambar itu, sebuah suara muncul dari semua soundsystem yang ada disitu. Suara yang disamarkan.

“Watashitachiha shinigamidesu.”
(kami adalah dewa kematian – in eng: Grim Reaper)

“kami telah meletakkan sebuah bom berbentuk micro SD didalam jas presiden USA yang terhormat. Pertahanan USA buruk sekali karena kode rumah dan kamar presiden sangat mudah dibobol oleh tim kami. Seburuk itukah teknologi Amerika? Bom itu akan menyapu habis seluruh isi gedung jika kalian tidak segera menjinakkannya. Untuk menjinakkannya, kalian hanya tinggal memasukkan micro SD tersebut kedalam ponsel dan mengetik kodenya dalam sebuah pesan singkat dan kirimkan ke nomor +17772. Tentu saja, untuk mendapatkan kodenya, kita akan bermain-main dahulu. Kalian hanya memiliki 2 kali kesempatan untuk mencoba. Dan jika dua-duanya gagal, matilah kalian. Aku yakin disana sedang berdiri seseorang bernama Byun Baekhyun. Mari kita lihat seberapa jauh kepintaranmu, dude. Waktumu 30menit”

Suara itu menghilang seiring dengan munculnya sebuah kode memusingkan di layar proyektor.

WWW><+5<W>U -- % -- # -- & -- @ -- G.R

“keparat. Sialan!” amuk Chanyeol.

Seluruh ruangan gaduh dan ketakutan. Pintu tidak dapat dibuka. Semua yang didalam adalah sanderaan.

Baekhyun menutup matanya, menghembuskan nafas pelan sembari memandang tenang ke arah kode. Ia mengambil notebook dari dalam sakunya dan mulai mencoret dengan pensilnya.

“WWW terdiri dari 6 V. Too obvious. Bakayaro” geramnya.

“>< sering diibaratkan dengan cermin yang berlawanan. Artinya + >< = - baiklah kode pertama V.” Peluh bercucuran dari pelipisnya.

“<W? Kurang dari W? Sebelum W? Tentu saja V. Ah, apakah ini hanya pendukung kode sebelumnya? Sebentar... >U ? lebih dari U? Setelah U? Tentu saja V. Apakah double V atau hanya 1 V namun dengan 3 clue?” ia menjambak rambutnya dan menggaruk belakang telinganya. Ia melirik arlojinya dan terkejut waktu tersisa 15 menit lagi.


Ia menarik sebuah kursi dan berjongkok diatasnya. Ia memandangi lekat-lekat kode tersebut.

“% -- # -- & -- @ -- G.R. kode paling ujung tentu saja Gream Reaper. Jika dalam rumus keyboard komputer , % = 5.” Ia bergegas menuju salah satu laptop terdekat dan mencatat. “5372GR” ucapnya.

“baiklah... apakah kode ini VVV5372GR?” kepala kirinya terasa sakit. Ia meminta micro SD itu dan memasukkan ke ponselnya. Seluruh ruangan terdiam penuh harap ketika ia mulai mengetik.

“VVV5372GR”

“SALAH!” suara itu kembali berbunyi. Membuat seisi ruangan mendesah kecewa. Baekhyun terdiam. Ia geram.

“baiklah. Tinggal satu dugaan tersisa.” Ia menarik nafas panjang lalu mulai mengetik lagi. Keringat bercucuran dari pelipis dan lehernya. Ia sangat tegang.

“V5372GR”
Message sent.

Beberapa detik berlalu, semenit berlalu, tidak ada suara berbunyi. Semua menunggu dengan cemas.

“Anata wa subarashī, Baekhyun.”
(kau hebat, Baekhyun)
 suara itu kembali berbunyi. Kali ini berbeda dari suara sebelumnya. Jika suara sebelumnya terkesan penuh semangat, suara kali ini terdengar lembut dan tenang.

“semua aman. Bom tersebut sudah dijinakkan. Tunggu kekacauan dari kami segera” suara itu seketika menghilang.

Baekhyun terduduk lega. Chanyeol menghampirinya dan menepuk pundaknya. Mereka tersenyum puas. Seluruh ruangan bertepuk tangan.

5 orang lainnya yang sedang berada dikamar hotel pun tersenyum.

“Wareware wa futatabi au yoteida.”


-TO BE CONTINUED-

Kamis, 26 Maret 2015

CHAPTER 3

"nanananananananananananananaaaaaaa~" senandung baekhyun sembari berjalan pulang... di layar handphone nya terdapat "now playing : Amber - Shake That Brass" ia mendengarkan lagu itu dengan sepasang earphone putih tertaut ditelinganya. ia sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya menikmati alunan lagu easy-listening tersebut.

sesosok tubuh kewalahan mengikutinya dari belakang. jalan pulang baekhyun benar-benar bukan suatu jalan pulang yang biasa. ia mengarah ke arah ujung kota, tempat dimana bangunan2 lama yang angker nan gothic berdiri. baekhyun tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan alunan lagu tersebut. sosok tadi terus mengikutinya namun merasakan keanehan yang menjanggal. baekhyun membelokkan arahnya dan masuk ke sebuah lorong di salah satu bangunan. sosok itu ragu untuk mengikutinya, namun rasa penasaran mengalahkan keraguannya. lorong itu sunyi, gelap, dan tak ada sisi tempat bersembunyi.

langkah baekhyun terhenti. ia melepaskan earphonenya dan tersenyum penuh arti. ia menyimpan earphone dan handphonenya kedalam kantong hoodie hitam yang saat itu dipakainya. kelihatan seperti aktivitas yang biasa saja bagi siapapun yang melihatnya terutama bagi sesosok yang sedang mengikutinya. sosok itu terdiam menahan nafas, bola matanya menggambarkan kecemasan dan raut wajahnya menggambarkan aku-takut-ketahuan.

baekhyun melanjutkan langkahnya. tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, namun pasti. ia terus menerus menyunggingkan senyum penuh arti. ia sesekali bersiul memecah kesunyian, namun tetap disertai senyuman yang tak dapat diartikan.

hampir setengah jam berlalu sampai akhirnya lorong itu menemukan ujungnya. bermuara pada lingkungan sebuah rumah sederhana ditengah hutan yang damai




baekhyun melangkahkan kaki masuk kerumah itu sementara sosok itu memilih bersembunyi dbalik pohon. pintu rumah dibiarkan baekhyun terbuka lebar. sosok itu memberanikan diri untuk mendekat. ia masuk kedalam rumah itu. selangkah, dua langkah. tak ada tanda-tanda keberadaan baekhyun. rumah itu tidak besar, setiap sisi bisa terlihat dengan jelas. apa dia dikamar? suaranya pun tak ada. sosok itu menyapu bersih pemandangan rumah itu. wajahnya kemerahan, ia sangat kelelahan.

"letih, nona?" sebuah suara berbunyi dibalik sosok itu. sosok itu sontak menoleh kebelakang dan agak mendongakkan kepalanya

"ba--baekhyun...." gagapnya. didepannya berdiri baekhyun. tingginya hanya sebahu baekhyun yang mengharuskannya mendongak. baekhyun tersenyum sembari menyodorkan sebotol air mineral yang sedang dibawanya.

"minumlah." tawarnya. sosok itu mengambil dengan malu2 air itu dan mulai menenggaknya.

"mengapa kau mengikutiku, taeyeon?" tanya baekhyun

"kau tau aku mengikutimu?" taeyeon bertanya balik

"tentu saja aku tau" balas baekhyun yang tanpa diduga langsung menggendong taeyeon ala bridal style. taeyeon terbelalak namun tak melawan. pipinya kemerahan. wajahnya bertepatan dengan dada baekhyun dan itu membuat jantungnya berdegup kencang. baekhyun membawanya ke sofa dan mendudukkannya disana. ia lantas setengah duduk dihadapan gadis itu.

perlahan ia menurunkan kaos kaki panjang taeyeon berikut sepatunya. ia menyimpan kaos kaki dan sepatu taeyeon diujung ruangan dengan rapi. ia berjalan kearah belakang dan kembali membawa sebaskom air hangat, meletakkannya didepan kaki taeyeon dan memegang kaki taeyeon lembut serta mulai memasukkannya kedalam baskom. ia membasuhnya dan memijit kaki taeyeon lembut, membuat gadis itu kemerahan.

"eumm... baekhyun... aku minta maaf perihal yang tadi" ucapnya hati2.

"kau kan mau lomba balet kamis depan, kenapa memaksa mengikutiku sejauh ini?" tanya baekhyun yang masih sibuk dengan aktivitas memijitnya

"aku penasaran." taeyeon tertunduk.

"ini sudah petang. tidak baik melewati lorong itu malam2. tidurlah disini. kau bisa memakai kamarku" ucap baekhyun lalu berdiri

"ah, tidak-tidak... aku tidak enak denganmu" jelas taeyeon

"aku enak-enak saja" balas baekhyun

"emm.. baiklah" pasrah taeyeon

"aku mau mandi. kau tunggulah. sehabis aku, kau bisa mandi" jelas baekhyun yang setelahnya membuka hoodie hitamnya berikut kemeja sekolahnya berikut kaos dalamnya. ia masuk ke kamar mandi dengan santai..

taeyeon berjalan jalan mengitari rumah itu. tanpa ragu, ia memasuki kamar baekhyun. kamar itu sangat harum dan rapi. seperti tidak pernah ditempati. pandangannya tertuju pada sebuah lukisan besar yang tertempel di tembok sebelah kiri kamar itu. lukisan itu seperti tidak asing baginya. ia pernah melihat tempat didalam lukisan itu tapi entah dimana.



ia memandangi lekat lukisan itu. samar-samar ada yan terlintas di bayangannya. membuatnya sakit kepala lalu terduduk di ranjang milik baekhyun.

"mengingat sesuatu?" tanya baekhyun yang tau-tau sudah duduk disitu, disebelahnya.

"haa" kaget taeyeon memegang dadanya. ia terkaget. "tidak, tidak ada apa2... aku hanya sedikit pusing" sangkalnya.

"mandilah. aku sudah menyiapkanmu air hangat, kau bisa meminjam bajuku untuk sementara" jelas baekhyun.

taeyeon beranjak dan bergegas ke kamar mandi milik baekhyun.


___________________________________________________________________________________

@ SARFEIM.

"aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. pergerakan negeri hitam sudah mulai menyeruak." Raja Jaehyun gusar. ia terus memandangi bola kristal didepannya, dimana bola itu menunjukkan pergerakan yang semakin buruk.



pergerakan negeri hitam dengan cahaya kejahatannya yang berwarna merah mengkilat sudah mulai merambat ke negeri disebelahnya.

Jaehyun sangat gusar.

"persiapkan orang-orang paling kuat. kumpulkan kaum elf dengan sihir terkuat, vampire-vampire dengan umur terlama, werewolf-werewolf dengan kekuatan terkuat serta raksasa-raksasa di utara. kumpulkan semua. ambil semua murid berbakat dari sekolah sihir di utara. waktunya sebentar lagi akan tiba. walau aku harus menyerahkan nyawaku, sekali kali aku tidak akan pernah kalah oleh kejahatan" geramnya.

___________________________________________________________________________________

ditempat lain.........


"hahaha raja muda yang sangat naif. kau pikir kau bisa semudah itu mengalahkan Lavena sang ratu kegelapan?"
wanita itu duduk disebuah singasana, memegang sebuah tongkat perak berujungkan tiga runcing dipuncaknya, memakai gaun campuran putih dan orange lusuh. raut wajahnya menampakkan kekejaman tiada tara. dialah penguasa negeri hitam.

"anakku..." panggilnya menggema "keluarlah"

tak lama, sesosok lain muncul dari sudut ruangan. wanita jeli namun raut wajahnya menampakkan kejahatan. bahkan lebih kejam dari sang ibu.



ia menopangkan dagunya dipuncak kepalan tangan kanannya, sedang berpikir tentang sesuatu.

"aku kemarin malam menemukan suatu fakta penting" desisnya. suaranya merdu, namun beracun.

"apa itu, anakku?" tanya sang ratu.

gadis itu melayangkan tangannya anggun ke arah tembok yang tertutup tirai. tirai itu terbuka dengan lamban namun pasti dan memunculkan wajah atau lebih tepatnya gambar seseorang.

"siapa dia?" tanya sang ratu keheranan. "auranya tidak biasa."

"itulah sebabnya aku mengincarnya. dia memiliki setidaknya 5 ghoul didalam dirinya. dia juga memiliki 10 zhoul didalam jiwanya. lulusan terbaik akademi sihir di negeri seberang, menguasai 4 elemen dasar, serta memiliki kekuatan cahaya dan kecepatan. matanya yang tajam bisa membuat siapapun bisa mengenang masa lalu mereka yang terburuk dan menjadi lemah karenanya. dia benar-benar senjata paling mematikan yang harus ditaklukan" jelas gadis itu.

"siapa namanya? itu tidak boleh dibiarkan!" geram sang ratu

"aku tau. namun meskipun begitu, dia sedang dalam tugasnya mencari pangeran yang hilang ke dunia lain. dunia ini sudah cukup lama ditinggalkannya. tidak akan ada kemenangan apapun yang akan didapat oleh negeri dibawah Jaehyun tanpa campur tangan orang ini" jelas gadis itu.

"jadi apa rencanamu, Krystal-ku sayang?" tanya sang ratu.

"aku jatuh hati padanya. aku akan mejadikannya milikku, dibawah pengaruhku, dan menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan negerinya sendiri" seringainya sembari menatap penuh harap pada gambar di dinding itu.



___________________________________________________________________________________

"panggilkan darla!" bentak raja jaehyun

seorang gadis berambut merah tengah menikmati pemandangan malam luar istana. beberapa dayang istana tergopoh-gopoh menuju kearahnya dan menyampaikan titah raja. dengan langkah tegap ia berjalan masuk


"aku memberi hormat kepada yang mulia. ada apa kiranya memanggil hamba?" hormat darla

"pergi susul lah adikmu baekhyun. beritakan kepadanya keadaan sudah semakin berkecamuk. aku sendiri besok akan pergi ke dataran liar di selatan. mungkin masih ada beberapa kaum centaurs dan goblin yang bisa direkrut." jelas jaehyun.

darla membungkuk "perintah yang mulia akan hamba laksanakan. tapi hamba tidak akan berwujud seperti ini. hamba akan kembali ke wujud hamba semula. wujud ini akan hamba kembalikan pada sang dewi darla. dan hamba juga akan kembali memakai nama lahir hamba" darla menjelaskan.

"itu akan lebih bagus, Irene. baekhyun akan bingung jika melihat wujudmu yang sekarang" jaehyun tersenyum tulus pada darla atau sesuai nama aslinya, Irene.

irene pamit untuk meninggalkan dunia itu malam itu juga. "membuang waktu dengan bersantai sementara masalah didepan mata bukanlah hal yang wajar dilakukan oleh wanita ber-integritas sepertiku" batinnya. seukir senyuman merekah di wajahnya.

ia menuruni tangga istana, mengitari wilayah penduduk dengan senyum keramahan, menuruni beberapa bukit dan lembah dan sampai ke suatu tepi hutan. "ini dia" batinnya. ia masuk tanpa ragu, menelusuri hutan tersebut sampai tibalah ia ditempat yang ditujunya. Bola Dunia. itu adalah sebuah bola atau kristal ajaib yang menjadi portal antara dunia itu dan dunia dunia lainnya, termasuk bumi.



ia berpamitan terlebih dahulu kepada para elf penjaga sang bola dunia yang menempati rumah cahaya. para elf sihir memberinya masing-masing 3 anugerah agar dirinya aman. para elf pun menghadiahi 1 buah zhoul bakat yang belum dimilikinya. menurut ramalan para elf, itu akan sangat membantunya nantinya. ia pun semakin menyimpan kepercayaan diri akan dunia dimana baekhyun, adiknya sedang berkelana. sebuah dunia yang tak pernah ia bayangkan atau kunjungi selama ini karena hidupnya selalu dibawah bayang-bayang istana sefraim yang dicintainya. ini petualangan pertamanya. dan mungkin akan jadi pengalaman paling berharganya. ia menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya tubuhnya bercahaya, terangkat, dan turun kembali, namun turun dengan wujud lain. wujud aslinya. Irene.




dengan langkah pasti ia menelusuri jembatan ke bola dunia, ia memasuki bola dunia dengan pasti dan tak ada keraguan. ia menutup matanya. ketika ia membukanya. ia sudah berada ditempat lain.


diluar lorong itu, perjalanannya dimulai. ia melangkah maju dan tegap. ketika ia sampai diluar, suasana agak ribut. itu aalah sebuah taman. dipenuhi banyak orang. didaerah situ banyak gedung-gedung dan semuanya ramai.

"sudah kuduga kau akan menyusul calon suamiku. salam, wahai kakak ipar" sebuah suara merdu terdengar.

irene menoleh, mencari sumber suara. disana. dia mendapatkannya. disana, berjalan dari arah pohon.

"Krystal." batinnya.

--TO BE CONTINUED--

CHAPTER 2.

Ditempat lain... atau bisa dibilang dunia yang lain... keadaan sedang berkecamuk.


tampak indah sekali dari luar, namun untuk masuk ke istana tersebut, bukanlah hal yang gampang. yang kau lihat diatas lumayan berbeda dengan kerajaan pada umumnya. jika kerajaan pada umumnya, akan terlihat pedesaan atau wilayah penduduk, barulah istana. namun berbeda hal disini. disini, kau harus mendahului istana agar bisa masuk ke wilayah kerajaan atau wilayah penduduk. dan jalan masuk ke kerajaan ini sangatlah rumit. kau harus melewati labirin tanaman. dan jika kau tidak cermat, kau tidak akan bisa menemukan jalan masuk.

SARFEIM. itulah namanya. nama sebuah dunia yang tidak bisa kau jangkau jika tidak mempunyai keberuntungan yang cukup

"AKU PUSING!!" racau orang itu. kepalanya berhiaskan mahkota emas dengan berlian besar ditengahnya serta beberapa permata disamping kanan dan kirinya. ia berhiaskan jubah panjang khas kerajaan, berkain beludru ungu dengan juntaian-juntaian permata ringan ditiap sisi jubahnya. sembari menghela nafas panjang ia menghempaskan dirinya ke singasana mewahnya yang masing-masing ujungnya dihiasi oleh patung emas kepala singa.

"yang mulia Jaehyun, apa belum ada kabar dari baekhyun hingga saat ini?" tanya seorang penatua berkacamata bundar. jenggot putih panjangnya mengisyaratkan bahwa ia sudah berumur.

"belum. aku tidak tau harus sampai kapan menanti" gelisah Sang Raja sembari terus memandangi bola kristal kemerahan didepannya. tak ada yang tampak dari bola kristal tersebut.

_________________________________________________________________________________

"ini seragam mu, baekhyun." ucap seorang guru setengah baya sembari memberikan sepasang seragam utuh kepada anak lelaki didepannya. anak lelaki itu mengangguk dan membungkukkan sedikit badannya seraya pergi menjauh.

ia bersiul disepanjang koridor, mengacuhkan bisikan para gadis-gadis yang terpesona melihatnya. tangannya memutar-mutar bungkusan seragam yang sedang diletakannya diatas telapak tangannya. tiba-tiba matanya menangkap sesuatu dari arah perpustakaan. ia mengendap-endap dan mencuri pandang kedalam tempat sunyi itu. hanya ada seseorang disana. seorang gadis yang tengah membaca dan sesekali mencatat di buku biru miliknya. ia tersenyum lembut.

"sedang apa?"

"haa..." gadis itu terkesiap melihat pemandangan didepannya. entah sejak kapan anak lelaki itu berada didepannya. ia sama sekali tak melihat orang lain masuk

"tidak usah terkejut begitu. kenalkan, aku baekhyun. apa kau mau jadi pacarku?" tanya nya santai sembari mengambil buku biru milik gadis itu "ah puisi... kau suka menulis puisi?" liriknya yang disambut pandangan tidak santai dari sang gadis

"maaf, aku banyak urusan. selamat tinggal" sergah sang gadis sembari menarik pelan bukunya dari
tangan baekhyun.

Baekhyun tertegun seraya melihat gadis itu memasang wajah penolakannya. Gadis itu membereskan barang-barangnya dan telah memulai langkahnya untuk keluar.
Baekhyun berdecak santai sembari melihat gadis itu keluar.

“ckck mengecewakan, bagaimana lagi caranya aku menyelamatkanmu?  Tugas ini terlalu berat untukku” ia mengeluh sembari menerawang langit-langit perpustakaan.

“berpikir keras, byun baekhyun?” 

batin seseorang. Baekhyun menerawang, melirik ke arah jendela besar yang menerangi perpustakaan itu, mencari sang pemilik batin, ia menemukannya. Disana, di gedung seberang, dibalkon utama gedung itu, oh sehun rupanya sedang mengamatinya. Baekhyun tak beranjak. Ia tetap duduk di mana ia sedang duduk. Keheningan menerpa. Semilir angin menghembus rambut sehun sedang lambaian gorden menjadi poin utama pemandangan di sisi sekitar baekhyun.
Tak ada percakapan batin. Hanya saling memandang dengan tatapan kosong.
Ia mengacuhkan sehun, tak membalas apa2. Moodnya sedang tidak baik. Ia beranjak lalu melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan. Sehun menanggapinya dengan helaan nafas.

"pria yang seumur hidup tak pernah memiliki rasa cinta pada siapapun, tiba-tiba tertarik pada sesosok gadis SMA? ditambah lagi, gadis itu manusia biasa. ayolah. aku tau ada sesuatu yang tidak beres sejak awal. ini tidak seperti dirinya. jelas sekali. aku tidak dungu" seringai sehun sembari berjalan meninggalkan balkon itu sembari memasukkan tangannya ke saku celana abu-abunya.



 "kau terlihat kurang bersemangat siang ini, L" celetuk seseorang dengan keringat bercucuran.

"benarkah? mungkin saja. tapi aku tetap bisa mengimbanginya" balas orang itu. orang dengan nomor punggung 4 itu berbicara sembari meloncat, dan 1 shoot terlaksana dengan baik mengehentarkan bola basket masuk sempurna ke ringnya.

"itu buruk sekali" pikir seseorang yang sedang menikmati segelas milkshake dan melihat permainan diatas dari kursi penonton.

"L, bersemangatlah!!" teriak seorang gadis dari ujung lapangan. Taeyeon.

"ah, jadi itu dia" seseorang itu menyeruput milkshakenya tak sabaran. bibirnya menyunggingkan senyum tak senang. "menarik. tapi membosankan." decaknya. "sekaligus mengecewakan. membuatku mengantuk" ia meletakkan gelas plastik yang kini telah kosong dan menguap, merenggangkan otot tubuhnya.

orang itu beranjak pergi. entah kemana.

"apa kau lelah? ini" dengan senyum mengembang, taeyeon menyodorkan sebotol air mineral dan handuk kecil pada kekasihnya, L. L adalah sosok makhluk (yang biasa disebut manusia) paling terkenal di SMA itu. wajar saja, dia kepala tim basket, ketua murid, sekaligus orang terpandai seantero sekolah. tak hanya itu, orang tuanya pun memiliki pengaruh besar dikarenakan kaya raya dan mempunyai jabatan penting baik itu di bidang bisnis maupun pemerintahan.

"terimakasih, taey. aku senang kau datang melihatku latihan. akhir2 ini kau sibuk dengan latihan menarimu. kapan lombanya?" tanya L antusias.

"eum... maafkan gadis bodoh ini, L sayang. hehe... aku serius.. maaf karena kurang memperhatikanmu akhir2 ini. lombanya akan diadakan kamis depan" jawab taeyeon.

"tidak apa2. aku mendukungmu sepenuhnya dalam hobby baletmu" L mengacak-acak lembut rambut taeyeon.

"aku bahkan melewatkan beberapa pelajaran sehingga harus menghabiskan sebagian besar waktuku disekolah dengan belajar di perpustakaan" keluh taeyeon. seketika ia ingat kejadian terakhir di perpustakaan tadi. ia menjadi jengkel dan mengubah raut wajahnya.

"kau kenapa? apa ada hal yang mengganggumu? jelaskan padaku" tanya sekaligus pinta L dengan lembut.

"huh...." taeyeon mendudukkan dirinya di kursi pemain yang kemudian diikuti oleh L yang segera duduk disampingnya.

"jadi tadi..." taeyeon memulai penjelasan. "aku sedang belajar di perpustakaan dan kegiatanku diganggu lelaki aneh itu" jelasnya.

"lelaki aneh? siapa? apa yang dia lakukan padamu? apa kau terluka?" interogasi L.

"tidak.. hanya saja... dia langsung muncul tiba-tiba didepanku dan menanyakan apa aku mau menjadi pacarnya. benar-benar tidak sopan" gerutunya.

raut wajah L berubah kemerahan. "siapa namanya?" tanya L dingin.

"Byun Baekhyun. itulah namanya. apa kau bisa menyingkirkannya untukku? aku yakin dia akan tetap mengejarku diwaktu yang akan datang. aku merasa tidak aman" celoteh taeyeon.

"tentu saja aku bisa, sayang. dia tidak akan berani macam-macam lagi denganmu" geram L sembari mengepalkan tangannya.

"bagus kalau begitu. aku benar-benar tidak habis pikir diperlakukan seperti itu. memangnya dia siapa berani menggangguku? cih" maki taeyeon.

L menenangkan dan meyakinkan taeyeon bahwa baekhyun tidak akan pernah lagi mengganggunya. 

seseorang mendengar percakapan mereka dan menyunggingkan senyum menghina.

_________________________________________________________________________________

"mengapa melamun seperti itu?"

lamunan baekhyun buyar oleh suara berat yang menghampirinya.

"sekarang kau lah yang suka mengganggu privasiku. enyahlah." maki baekhyun pelan tanpa sibuk2 menoleh melihat si pemilik suara. Oh Sehun.

"anggap saja kita impas. ngomong-ngomong, aku butuh penjelasan" nada sehun terdengar sangat penasaran.

tak ada tanggapan dari baekhyun.

"taeyeon itu siapa? mengapa kau mengincarnya dan apa keuntungan yang bisa kau dapatkan dari mendapatkannya?" interogasi sehun sembari menyuapkan satu potong hotdog ukuran jumbo ke mulutnya.

masih tak ada tanggapan.

"hey, aku bertanya" senggol sehun.

tetap tak ada tanggapan.

"kau memutuskan untuk mengirimkan fotonya padaku malam itu. sejak detik itu kau berhutang penjelasan padaku dan ketika aku meminta sesuatu, aku tidak akan pernah menerima penolakan" ucap sehun santai sembari menyeruput milkshakenya.

"kalau begitu ini kali pertama kau ditolak" balas baekhyun tak kalah santainya.

"aku serius." geram sehun.

"apa aku terlihat bercanda?" balas baekhyun masih dengan nada dan ekspresi sebelumnya.

"terserah kau sajalah. tapi taeyeon itu kurasa bukan gadis yang memiliki hati baik." jelas sehun.

"aku tak peduli soal hati" jawab baekhyun dingin.

"lalu mengapa kau tertarik padanya? ayolah" bujuk sehun.

"kau itu bodoh. itulah sebabnya kau selalu tidak menyadari apa yang terjadi" ucap baekhyun santai sembari menyeruput milkshakenya.

sehun menoleh geram kearahnya, ketika itu juga seketika kantin itu dipenuhi oleh sebuah teriakan yang menggema.

"SIAPA DISINI YANG BERNAMA BYUN BAEKHYUN???!!" sehun tersentak dan hampir menumpahkan milkshakenya. seorang anak lelaki berwajah garang melotot kepada seluruh isi kantin. dibelakangnya berdirilah sosok L dengan wajah dinginnya. disamping L berdirilah taeyeon dan beberapa pengikut L yang lain.

"ya, aku disini. ada yang bisa kubantu?" sahut baekhyun santai, tak sedikitpun menoleh ke arah mereka. ia tetap duduk ditempatnya semula dan asyik menyeruput milkshakenya. 

lelaki garang tadi segera menghampiri baekhyun dan menariknya kasar dari kursinya, mendorongnya ke tembok terdekat dan mencengkeram kerah bajunya.

baekhyun melihatnya santai sembari menghela nafasnya. "lepaskan aku, otak udang. atau kau akan membayarnya dengan kesakitan yang parah" senyum baekhyun. senyum yang sangat tidak mengenakkan.

"bermimpilah, bocah berwajah balita. hahahaha" lelaki garang itu semakin mengangkat tinggi kerah baekhyun. L dan taeyeon tersenyum penuh percaya diri.

"ckck... yang penting aku sudah memperingatkanmu." DHAKKK......... tendangan baekhyun menancap sempurna di dada lelaki garang tadi, membuatnya terpental menabrak meja yang berada 2 meter dibelakangnya..

"huww..." baekhyun menghela nafas kasar sembari menekuk lehernya kekanan kekiri. lelaki tadi terkapar tak berdaya sembari memegangi dadanya. mata L terbelalak, begitupun taeyeon, bahkan semua orang didalam kantin tersebut terbelalak, kecuali sehun. ia dengan santai dan memberikan senyum meremehkan kepada lelaki garang tadi sebelum akhirnya ia mengambil langkah dan menghampiri L.

"apa yang kau rencanakan kali ini, L? mengganggu temanku?" sergah sehun santai sembari menyeruput milkshakenya. L memandang tajam kearahnya.

__________________________________FLASHBACK___________________________________

"NICE SHOOT, SEHUN!! COBALAH LEBIH JAUH LAGI" girang seorang lelaki berkacamata. 

"baiklah, pelatih" ucap sehun sembari men-dribble bola basket sembari ia berjalan agak jauh kebelakang. sesampainya ditengah lapangan, ia men-shoot kembali dan lagi2 menghasilkan suatu shoot yang indah dan sempurna. semua terperangah gembira kecuali satu orang.

sehun terus menerus melemparkan bola dengan jarak yang semakin jauh sampai akhirnya ia dapat melemparkan bola dari kursi penonton. semua sangat tertegun. aksinya mendapat reaksi iri berlebihan dari seseorang.

tidak hanya jago di shooting, namun sehun juga jago di dunk, jump shoot dan passing. passingnya pun tak sembarangan, ia mampu menjadi bayangan yang tak terdeteksi. semua kemampuan basket dimilikinya. semua posisi bisa dipegangnya. power forward, small forward, shooting guard, point guard, center semua bisa dimainkannya dengan luar biasa. dialah bintang basket yang sebenarnya. namun sayang, dia tak bisa lagi bergabung di club basket SMA itu karna ke-irian seseorang. L menjebaknya dalam suatu masalah yang tak main2, yaitu narkoba. ia dituduh menyelundupkan narkoba kesekolah. namun berhubung L adalah siswa yang paling berpengaruh, ia meyakinkan pihak sekolah agar tak melaporkan kejadian ini ke polisi. tetapi tetap memberikan hukuman kepada sehun, yaitu menyetop segala jenis ekskul yang ia ikuti dan tidak boleh berpartisipasi kedalamnya. 

pelatih yang membawa sehun masuk pun dipecat oleh L dengan alibi ia membantu sehun masuk ke team basket agar sehun tak terlihat seperti pengguna narkoba. alibi yang menurut sehun benar-benar jauh dari kata "cerdas".

____________________________FLASHBACK END_______________________________________

sehun menyeruput milkshakenya dengan santai.

"tutup mulutmu, oh sehun. aku tidak ingin berbicara denganmu" tegas L sembari berjalan melewati sehun, yang ditanggapi sinis oleh sehun.

L menghampiri baekhyun dan memasang tatapan membunuh. baekhyun pun memasang tatapan mematikan dengan kedua mata tajamnya.

"cukup sekali ini aku memperingatkanmu untuk tidak mendekati gadisku" nada L terdengar geram.

baekhyun menarik kursi dan duduk jongkok diatasnya sembari meminum kembali milkshakenya.

"aku tidak mendekatinya. aku hanya berbicara padanya sekali" balas baekhyun santai

"aku tidak tertarik pada gadis manja dan pengadu seperti itu" lanjutnya lagi.

"hey!" taeyeon berjalan ke arahnya dan mengarahkan jari telunjuknya pada baekhyun

"kalau kau tidak tertarik padaku, mengapa kau memintaku jadi pacarmu?" bentaknya

"aku tidak meminta. aku bertanya apakah kau mau atau tidak" balas baekhyun

"kau..." geram taeyeon

"apapun itu, jangan sembarangan mengatakan hal tidak penting. sangat tidak dewasa. hanya bisa menimbulkan keributan" ucap L dingin.

"perlukah aku membawakanmu kaca?" tanya baekhyun santai. sehun terkekeh mendengarnya.

"excuse me?" kernyit L.

"aku tanya..........." baekhyun melompat santai dari kursinya dan memasukkan tangan ke kantong celananya, berdiri tegap berhadapan dengan L. "apa aku perlu membawakanmu kaca?"

"apa maksudmu?" seru L.

"lihat, bagaimana orang seperti ini pantas menjadi ketua murid? otakmu kau taruh dimana, bung?" ejek baekhyun.

"kaulah yang bodoh, baekhyun. kau bahkan mengucapkan hal2 yang tidak dimengerti" balas L.

"dia memang bodoh, L. abaikan saja" cibir taeyeon.

"lihat, pasangan paling bodoh yang pernah ada" seru baekhyun.

bibir dan rahang L bergetar, tangannya mengepal.

"biar kuperjelas, otak udang." baekhyun menarik kembali kursinya memakai kaki kirinya, dan menaikkan kaki itu diatas kursi itu. "kau bilang aku tak dewasa dan menimbulkan kekacauan. for your information, tidak ada orang dewasa yang menyelesaikan masalah dengan membawa seorang lelaki jelek nan garang serta sepasukan orang untuk mengalahkan lawannya. orang dewasa menyelesaikan masalah secara face-to-face. kemudian, masalah gadis tolol itu. aku hanya menanyakan apa dia mau jadi pacarku atau tidak. jika ia tidak mau, dan memang ia tidak mau, apa masalahnya bagimu? seharusnya kau bersyukur gadis itu masih memilih kau yang dungu ketimbang aku yang lebih berpikiran luas. jika aku adalah taeyeon, dengan melihat caramu menghadapi lawanmu seperti ini, aku akan segera memutuskanmu pulang sekolah nanti. namun sayang sekali, tingkat kepintaran otak taeyeon tak bisa disamakan denganku. perlukah aku membawakanmu tangga, nona? agar kau bisa mencapai level otakku?" tolehnya ke taeyeon, kemudian menoleh lagi ke L. "poinku yang kedua, kau bilang aku menimbulkan keributan. sebenarnya, siapa yang membawa lelaki jelek nan garang ini ketengah kantin dan berteriak layaknya kera liar mencari pisang?" L semakin geram mendengar celotehan baekhyun. wajahnya memerah menahan malu.

"jadi, sekali lagi kutanyakan..." baekhyun berbicara sarkastik "apa aku perlu membawakanmu kaca?" ia tersenyum penuh kemenangan sementara L semakin menahan amarah sampai2 matanya berkaca-kaca.

taeyeon tertegun. entah kenapa baekhyun menjadi sangat keren dimatanya. tiba2 perasaan itu muncul. perasaan kagum sekaligus tersakiti karena dirinya telah dicaci maki sedemikian rupa. namun entah kenapa, justru hal itulah yang membuatnya kagum.

"pikirkan sekali lagi. apakah jenjang SMA sudah cocok untuk sifatmu yang seperti anak2 jika permennya direbut karena kudengar masih ada SMP atau bahkan SD yang bersedia menerima orang2 dengan kelemahan mental seperti dirimu" baekhyun mengakhiri kalimatnya dengan menepuk bahu L yang saat ini sudah benar-benar emosi. baekhyun melangkah keluar diikuti oleh sehun yang sedari tadi terkekeh kekeh. 

sepasang mata taeyeon mengikuti langkah santai baekhyun. entah kenapa ia tertarik dengan lelaki itu semenjak kejadian tadi. diam-diam ia membisikkan sesuatu di hatinya 

"apa mungkin aku mempunyai kesempatan mengenalnya lebih dalam?" 


--TO BE CONTINUED--